Saturday, November 3, 2018

Akantosis Nigrikans

Akantosis Nigrikans

Akantosis nigrikans adalah kelainan pigmentasi kulit yang tidak menular dan biasanya tidak membahayakan. Akan tetapi, kondisi ini dapat menjadi tanda gangguan kesehatan ringan hingga berat.
Akantosis nigrikans ditandai lipatan-lipatan kulit yang menghitam, menebal, dan bertekstur seperti kain beludru. Area kulit ini meninggalkan bau tidak sedap dan gatal-gatal pada kulit. Akantosis Nigrikans - Alodokter_compress

Penyebab Akantosis Nigrikans

Belum diketahui secara pasti penyebab akantosis nigrikans, namun umumnya kondisi ini terkait dengan resistensi insulin. Berikut ini sejumlah penyebab akantosis nigrikans:
  • Obesitas. Akantosis nigrikans biasanya muncul akibat dari obesitas. Semakin berat, semakin tinggi risiko menderita akantosis nigrikans.
  • Resistensi insulin. Kondisi ini menyebabkan tubuh tidak dapat menggunakan insulin sebagaimana mestinya. Insulin adalah hormon yang yang dihasilkan di pankreas untuk mengontrol kadar gula darah. Resistensi insulin yang merupakan penyebab penyakit diabetes tipe 2 dan kebanyakan orang dengan akantosis nigrikans juga memiliki resistensi insulin.
  • Pemakaian obat-obatan dan suplemen. Akantosis nigrikans bisa disebabkan pemakaian obat dan suplemen seperti obat kontrasepsi oral (pil KB), kortikosteroid seperti prednisone, dan niacin dalam dosis tinggi.
  • Kelainan hormon. Akantosis nigrikans dapat terjadi pada penderita kelainan hormon seperti hipotiroidisme (kelenjar tiroid kurang aktif), penderita kista ovarium, dan pada pasien dengan berkurangnya produksi hormon di kelenjar adrenal (Penyakit Addison)
  • Kanker. Akantosis nigrikans bisa terjadi pada pasien kanker seperti limfoma atau tumor lainnya pada organ-organ internal. Umumnya tumor daerah lambung, hati, dan usus besar (kolon).
  • Kelainan kelenjar hipofisis (pituitary) di otak.

Gejala Akantosis Nigrikans

Gejala akantosis nigrikans ditandai oleh area kulit berwarna abu-abu kecokelatan, menghitam atau lebih gelap dari kulit sekitarnya. Kondisi kulit pada area ini kering, terasa gatal, dan kasar yang bertekstur seperti beludru. Area-area kulit yang biasa terserang akantosis nigrikans adalah:
  • Bibir.
  • Leher.
  • Ketiak.
  • Telapak tangan.
  • Buku-buku jari.
  • Siku.
  • Lipat paha.
  • Lutut.
  • Telapak kaki.

Diagnosis Akantosis Nigrikans

Dokter dapat mengenali akantosis nigrikans melalui pengamatan langsung ke kulit pasien. Umumnya dokter akan memeriksa apakah pasien mengalami diabetes atau resistensi insulin, melalui tes gula darah atau tes insulin dengan berpuasa terlebih dahulu. Selain itu, riwayat kesehatan pasien juga diperiksa, termasuk riwayat konsumsi suplemen vitamin dan mineral, atau suplemen pembentuk massa otot. Dalam kasus yang jarang terjadi, dokter akan mengambil sedikit sampel dari potongan kulit (biopsi) yang terkena akantosis nigrikans untuk diperiksa di laboratorium. Pada akantosis nigrikans yang belum diketahui pasti penyebabnya, dokter menganjurkan tes darah dan sejumlah tes lain untuk memastikan penyebabnya.

Pengobatan Akantosis Nigrikans

Pengobatan akantosis nigrikans bertujuan untuk menangani penyebab dari akantosis nigrikans. Dokter umumnya akan menyarankan penanganan berupa:
  • Penurunan berat badan.
  • Konsumsi obat untuk memperbaiki level hormon dalam tubuh jika akntosis nigrikans disebabkan oleh kelainan hormon.
  • Diberikan obat-obatan penurun gula darah bila mengalami diabetes.
  • Operasi, kemoterapi, atau radioterapi bagi penderita penyakit kanker.
Selain mengatasi penyebabnya, untuk memperbaiki tampilan kulit, dapat diberikan pengobatan seperti:
  • Krim pencerah kulit yang mengandung asam alfa hidroksi, asam salisilat, dan urea.
  • Krim antibiotik.
  • Sabun antibakteri.
  • Obat jerawat minum seperti isotretinoin dan antibiotik.
  • Terapi laser yang memfokuskan sinar yang ditembakkan untuk memperbaiki penampilan kulit.

Komplikasi Akantosis Nigrikans

Komplikasi dari akantosis nigrikans sangat bergantung dari penyebabnya. Akantosis yang timbul saat dewasa perlu dicari tahu penyebabnya. Resistensi insulin dan diabetes tipe 2 paling sering berhubungan dengan akantosis nigrikans, namun kemungkinan kanker tidak boleh diabaikan.

Pencegahan Akantosis Nigrikans

Akantosis nigrikans bukan semata kelainan kulit. Untuk mencegahnya, adalah dengan mencegah penyebabnya, di antaranya:
  • Mengurangi berat badan yang berlebih atau obesitas, misalnya dengan menjalani pola makan yang baik dan olahraga teratur.
  • Mengganti obat-obatan tertentu yang dapat memicu timbulnya akantosis nigrikans. Konsultasi kepada dokter mengenai penggantian obat-obatan.
Segera kunjungi dokter spesialis kulit jika kulit Anda mengalami perubahan warna dan bentuk, baik perubahan kecil maupun besar. Terkadang perubahan kecil pun dapat menjadi gejala awal diabetes atau gangguan kesehatan lain.

Agranulositosis

Agranulositosis

Agranulositosis adalah istilah yang dipakai saat sumsum tulang gagal membentuk granulosit. Granulosit, yang sebagian besar terdiri dari neutrofil, merupakan jenis sel darah putih yang bertugas untuk melawan infeksi. Tubuh yang kekurangan granulosit atau neutrofil akan mudah terserang oleh infeksi.
Dalam keadaan normal, sumsum tulang mampu membentuk 1.500 neutrofil per mikroliter darah. Sedangkan pada agranulositosis, jumlah neutrofil absolut yang terhitung tidak sampai 100 neutrofil per mikroliter darah. Pada kondisi jumlah neutrofil yang rendah, infeksi ringan dapat berkembang menjadi infeksi serius. Mikroba atau kuman yang tidak berbahaya dapat berkembang dan menjadi berbahaya untuk tubuh.
Agranulositosis - alodokter_compress
Agranulositosis merupakan kondisi yang cukup serius. Jika tidak segera ditangani bisa mengakibatkan sepsis dan kematian.

Gejala Agranulositosis

Orang yang mengalami agranulositosis akan mudah terserang infeksi karena minimnya jumlah sel darah putih yang bertugas untuk melawan serangan bakteri.
Gejala yang muncul layaknya infeksi, meliputi:
  • Demam.
  • Lemas.
  • Sakit kepala.
  • Menggigil dan berkeringat.
  • Kemerahan di sekitar wajah.
  • Radang tenggorokan.
  • Sariawan yang tidak membaik.
  • Gusi berdarah.
  • Timbul bisul pada kulit.
Bila infeksi semakin berat dapat mengakibatkan:
  • Takikardia.
  • Napas menjadi cepat.
  • Tekanan darah rendah atau hipotensi.

Penyebab Agranulositosis

Agranulositosis bisa terjadi akibat cacat lahir (kongenital) atau didapat akibat penyakit,  obat, dan prosedur medis. Agranulositosis kongenital disebabkan oleh kelainan genetik langka, yaitu sindrom Kostmann. Kelainan ini diturunkan kepada anak-anak dari orang tua.
Suatu penelitian membuktikan bahwa sebanyak 70 persen kasus agranulositosis terkait dengan pemakaian obat antipsikotik (misalnya clozapine), antimalaria, antiinflamasi, serta antitiroid (misalnya carbimazole).
Penyebab agranulositosis yang didapat adalah:
  • Kondisi autoimun, seperti lupus dan rheumatoid arthritis.
  • Penyakit yang menyerang sumsum tulang, seperti anemia aplastik, leukemia, dan sindrom mielodisplasia.
  • Hepatitis.
  • HIV.
  • Tindakan kemoterapi dan transplantasi sumsum tulang.
  • Paparan senyawa kimiawi, seperti arsenik atau merkuri.
  • Obat-obatan, seperti obat antipsikotik, obat malaria (misalnya pil kina), OAINS, dan obat hipertiroid (contoh thiamazole).

Diagnosis Agranulositosis

Dokter akan memeriksa riwayat kesehatan pasien dan melakukan pemeriksaan fisik. Apabila dicurigai agranulositosis, dokter akan melakukan pemeriksaan hitung sel darah lengkap dan pemeriksaan hitung neutrofil absolut untuk memeriksa jumlah sel darah secara menyeluruh, terutama sel darah putih.
Hasil tes darah digunakan untuk memastikan tindakan diagnosis berikutnya. Pemeriksaan lainnya bertujuan untuk mengetahui penyebab dari agranulositosis seperti pemeriksaan aspirasi sumsum tulang dan biopsi sumsum tulang, yaitu diambil sampel darah dan jaringan dari tulang daerah panggul. Sumsum tulang merupakan salah satu tempat diproduksinya sel darah. Bila dicurigai terdapat penyakit genetik, dokter akan meminta melakukan pemeriksaan genetik.

Pengobatan Agranulositosis

Infeksi yang terjadi pada agranulositosis diobati dengan menggunakan antibiotik. Antibiotik yang diresepkan oleh dokter akan diberikan berdasarkan tingkat keparahan infeksi. Terkadang antibiotik sudah diberikan sebelum terjadinya infeksi, yang bertujuan untuk mencegah terjadinya infeksi. Dalam mengobati agranulositosis, penting untuk mengetahui penyebab dari agranulositosis itu sendiri, sehingga dapat ditangani secara tepat. Misalnya, bila dicurigai agranulositosis akibat obat malaria, akan diberikan pengganti obat tersebut. Bila perlu, pengobatan dapat dihentikan sementara.
Beberapa obat yang akan direkomendasikan yang disesuaikan dengan penyebab agranulositosis adalah:
  • Granulocyte colony-stimulating factor (G-CSF). Cara ini dilakukan dengan menyuntikkan hormon yang merangsang sumsum tulang untuk menghasilkan lebih banyak granulosit. Penyuntikkan G-CSF biasanya diberikan melalui suntikan di bawah kulit (subkutan) pada pasien agranulositosis akibat obat kemoterapi. Contoh dari G-CSF adalah filgrastim.
  • Imunosupresan. Jika agranulositosis disebabkan oleh kondisi autoimun, yaitu adanya kekebalan tubuh yang menyerang tubuh sendiri, maka akan diberikan obat yang dapat menekan kekebalan tubuh tersebut. Contohnya kortikosteroid.
  • Transplantasi sumsum tulang. Pada kasus agranulositosis yang tidak lagi bisa ditangani melalui pengobatan biasa, maka transplantasi sumsum tulang dapat menjadi pilihan. Cara ini umumnya memberikan hasil terbaik untuk pasien berusia di bawah 40 tahun dengan fungsi organ lain seperti jantung, ginjal, dan hati yang baik. Transplantasi sumsum tulang dapat dilakukan pada pasien leukemia.
Penderita agranulositosis dianjurkan untuk tidak berada di dalam situasi keramaian guna meminimalkan risiko terkena infeksi. Penderita juga dianjurkan untuk menghindari makanan yang berpotensi terapapar bakteri, misalnya buah atau sayur yang tidak dicuci atau dikupas dengan bersih.

Afasia

Afasia

Afasia adalah gangguan fungsi bicara yang disebabkan oleh adanya kelainan pada otak. Umumnya penderita kondisi ini sering keliru dalam memilih, merangkai, dan mengartikan kata-kata menjadi sebuah kalimat yang benar. Selain itu, afasia juga dapat memengaruhi kemampuan menulis.
afasia - alodokter_compress

Penyebab Afasia

Cedera dan kerusakan di bagian pemrosesan bahasa pada otak merupakan penyebab utama afasia. Penyakit ini umumnya menyerang orang dewasa penderita stroke. Studi menunjukkan bahwa sebanyak 25-40 persen pasien stroke yang sembuh berlanjut menderita afasia. Dalam kasus tertentu, afasia merupakan gejala dari penyakit epilepsi atau kelainan neurologis. Cedera atau kerusakan pada otak yang mengakibatkan afasia dapat dipicu oleh sejumlah kondisi, di antaranya:

Gejala Afasia

Berdasarkan gejala yang dialami oleh penderitanya, afasia bisa dibagi menjadi beberapa jenis, di antaranya:
  • Afasia reseptif. Pada jenis ini, penderita akan kesulitan dalam memahami maksud perkataan lawan bicara meskipun bisa mendengarnya secara jelas. Alhasil, respons komunikasi dari si penderita pun akan kacau dan sulit dipahami.
  • Afasia ekspresif. Pada jenis ini, penderita tahu apa yang ingin dia katakan kepada lawan bicara, namun dia kesulitan dalam mengutarakannya.
  • Afasia progresif primer. Kondisi ini menyebabkan penurunan kemampuan membaca, menulis, berbicara, dan pemahaman mengenai percakapan dari waktu ke waktu. Afasia progresif primer cukup sulit ditangani. Meski demikian, kondisi ini jarang terjadi.
  • Afasia anomik. Penemuan kata menjadi makin sulit bagi penderita afasia anomik. Kondisi ini umumnya diistilahkan dengan anomia. Penderita afasia anomik cukup kesulitan dalam memilih dan menemukan kata-kata yang tepat ketika menulis dan berbicara.
  • Afasia global. Kondisi ini tergolong afasia paling berat dan biasanya terjadi ketika seseorang baru saja mengalami stroke. Penderita afasia global tidak mampu membaca, menulis, serta kesulitan memahami percakapan orang lain.
Pada kasus yang umum terjadi, afasia lambat laun dapat menyebabkan gangguan kecemasan, depresi, dan perasaan terisolasi pada penderitanya.

Diagnosis Afasia

Pemeriksaan tingkat keparahan afasia biasanya akan dilakukan oleh dokter atau terapis wicara dan bahasa. Rangkaian pemeriksaan bertujuan untuk memperoleh hasil dari usaha pasien dalam menulis, membaca, memahami pendengaran, komunikasi fungsional, dan ekspresi verbal.
  • Penilaian berkomunikasi. Tes ini dapat dilakukan secara sederhana, misalnya dengan menyebutkan benda-benda yang berada di dalam ruangan dan menanyakan nama keluarga atau kerabat yang dimulai dari huruf tertentu.
  • Pengamatan citra otak. Pengamatan bertujuan dalam melihat seberapa parah kerusakan yang terjadi di otak. Alat yang digunakan secara umum ialah magnetic resonance imaging(MRI), CT scan, dan dalam beberapa kasus memakai tomografi emisi positron.

Penanganan Afasia

Penanganan afasia bergantung pada faktor-faktor seperti jenis afasia, usia, penyebab, serta ukuran dan posisi kelainan di otak. Penderita afasia yang terserang stroke dianjurkan mengikuti sesi terapi wicara dari ahli terkait. Sesi terapi yang akan berlangsung secara rutin ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi dan berbicara penderita afasia. Dalam sesi terapi, penderita juga akan diajarkan cara berkomunikasi yang tidak harus melibatkan percakapan. Jika Anda memiliki kerabat atau teman yang menderita afasia, berikut ini adalah sejumlah tips yang bisa Anda lakukan dalam berkomunikasi dengan mereka:
  • Dapatkan perhatian penderita afasia sebelum Anda mulai berkomunikasi.
  • Berbicara tidak terlalu keras, sederhana, dan perlahan-lahan.
  • Gunakan alat peraga dalam penyampaian pesan.
  • Tulis atau gambar pesan-pesan yang ingin disampaikan di secarik kertas.Jaga kontak mata dan perhatikan bahasa tubuh serta penggunaan gestur penderita afasia.
  • Gunakan pertanyaan sederhana dengan jawaban "ya" atau "tidak", ketimbang pertanyaan panjang yang bertele-tele.
  • Berikan waktu bicara yang cukup bagi penderita afasia.
  • Berikan semangat dan hindari overproteksi terhadap penderita afasia.
  • Berikan pujian ketika penderita afasia telah berusaha bicara.
  • Lakukan hal-hal di atas dalam kegiatan sehari-hari, kapan dan di mana saja.
Selain dengan terapi, dokter juga biasanya akan meresepkan obat-obatan sebagai kombinasi dalam penanganan afasia. Contohnya adalah bifemelane, bromocripitine, idebenone, piracetam, atau piribedil.

Acute Respiratory Distress Syndrome

Acute Respiratory Distress Syndrome

Acute Respiratory Distress Syndrome atau disingkat ARDS adalah kondisi yang muncul ketika cairan mengumpul di alveoli, yaitu kantung udara kecil dan elastis pada paru-paru. Cairan biasanya merembes dari pembuluh darah kecil.
Kumpulan cairan ini dapat membuat paru-paru tidak cukup terisi udara dan pasokan oksigen ke aliran darah menjadi berkurang. Hal tersebut mengakibatkan organ-organ, seperti ginjal dan otak, tidak dapat bekerja normal atau bahkan berhenti berfungsi karena tidak mendapat cukup oksigen.
Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) - alodokter
ARDS biasanya dialami oleh orang yang sudah menderita penyakit kritis atau mengalami cedera cukup parah. Kebanyakan ARDS menyebabkan kematian, meskipun ada pula penderita yang dapat sembuh total. Besarnya risiko kematian bergantung dari usia penderita dan tingkat keparahan ARDS.

Gejala Acute Respiratory Distress Syndrome

Gejala yang dialami penderita ARDS dapat berbeda-beda, tergantung dari penyebab dan tingkat keparahannya. Beberapa gejala yang mungkin dirasakan oleh penderita ARDS adalah:
  • Napas menjadi sangat pendek.
  • Sesak napas dan frekuensi napas menjadi cepat.
  • Tekanan darah turun.
  • Penurunan kesadaran dan merasa sangat lelah.
  • Banyak berkeringat.
  • Pusing.
  • Bibir atau kuku berwarna kebiruan.
  • Batuk kering.
  • Demam.
  • Denyut nadi cepat.

Penyebab Acute Respiratory Distress Syndrome

Penyebab ARDS adalah merembesnya cairan dari pembuluh darah kapiler (pembuluh darah terkecil) dalam paru-paru ke dalam alveoli, tempat di mana seharusnya darah dipasok dengan oksigen. Pada kondisi normal, membran pembuluh darah akan menjaga cairan tetap di dalam. Adanya cedera atau penyakit yang berat dapat menyebabkan kebocoran cairan dari dinding pembuluh darah. Cedera dan penyakit tersebut di antaranya adalah:
  • Sepsis.
  • Menghirup zat berbahaya, seperti asap pekat atau uap kimia.
  • Pankreatitis.
  • Tersedak muntahan atau kondisi nyaris tenggelam.
  • Pneumonia berat.
  • Cedera di kepala, dada, atau bagian tubuh lainnya.
  • Luka bakar.
  • Overdosis obat tidur atau antidepresan.
  • Menerima transfusi darah dengan volume darah yang banyak.
Beberapa faktor yang meningkatkan risiko seseorang terkena ARDS adalah:
  • Ketergantungan alkohol.
  • Berusia di atas 65 tahun.
  • Perokok.
  • Menderita penyakit paru-paru kronis.

Diagnosis Acute Respiratory Distress Syndrome

Tidak ada metode pemeriksaan spesifik untuk mendeteksi ARDS. Diagnosis yang dilakukan terhadap pasien yang dicurigai ARDS didasarkan pada pemeriksaan fisik, foto Rontgen dada, serta pemeriksaan analisis gas darah dari pembuluh arteri untuk melihat kadar oksigen dalam darah. Pemeriksaan darah juga dapat dilakukan untuk melihat adanya anemia atau infeksi. Selain foto Rontgen, dokter dapat melakukan CT scan untuk mendiagnosis ARDS.
Pemeriksaan jantung juga mungkin akan disarankan bagi penderita ARDS, sebab gangguan jantung dan ARDS memiliki gejala yang sama. Beberapa pemeriksaan jantung yang dapat dilakukan adalah:
  • Elektrokardiogram (EKG), untuk melihat aktivitas listrik dalam jantung.
  • Ekokardiografi, untuk mendeteksi gangguan pada struktur dan fungsi jantung penderita.

Pengobatan Acute Respiratory Distress Syndrome

Beberapa langkah yang dapat dilakukan dokter untuk mengatasi ARDS adalah:
  • Pemberian oksigen. Dokter akan meningkatkan kadar oksigen dalam aliran darah penderita dengan memberikan oksigen tambahan melalui selang hidung ataupun masker.
  • Alat bantu napas atau ventilator. Ventilator membantu memberikan tekanan udara tambahan ke paru-paru penderita.
  • Mengatur asupan cairan. Dokter akan mengatur jumlah cairan infus dan nutrisi yang masuk ke tubuh penderita, sesuai hasil uji klinis dan keadaan umum pasien.
  • Pemberian obat-obatan. Dokter akan memberikan obat untuk mencegah dan mengatasi infeksi, meredakan nyeri dan ketidaknyamanan, mencegah penggumpalan darah pada kaki dan paru, dan meminimalisasi refluks asam dan isi lambung. Bila diperlukan diberikan obat tidur, terutama untuk pasien yang menggunakan alat bantu napas.
  • Rehabilitasi paru. Tindakan ini diperlukan untuk memperkuat sistem pernapasan dan meningkatkan kapasitas paru-paru saat pemulihan dari ARDS.

Komplikasi Acute Respiratory Distress Syndrome

Pasien ARDS berisiko menderita komplikasi saat menjalani pengobatan. Beberapa komplikasi tersebut di antaranya adalah:
  • Penggumpalan darah. Berbaring terus-menerus dapat meningkatkan risiko terjadinya penggumpalan darah, terutama pada pembuluh darah vena dalam di tungkai (deep vein thrombosis).
  • Kolaps paru-paru (pneumothorax). Penggunaan ventilator berfungsi memberikan tekanan udara tambahan untuk meningkatkan aliran oksigen dalam darah. Ventilator juga membantu membersihkan cairan dalam alveoli. Namun penggunaan ventilator berisiko membuat robekan kecil pada kantung udara paru-paru, sehingga membuat udara dalam paru-paru keluar melalui lubang kecil tersebut dan menyebabkan paru-paru kempis.
  • Infeksi. Untuk menyambungkan paru-paru dengan mesin (ventilator), dimasukkan pipa atau selang ke dalam tenggorokan sampai melewati pita suara. Selang ini merupakan benda asing bagi tubuh yang berisiko melukai dan mengiritasi saluran pernapasan, serta menjadi tempat pertumbuhan bakteri.
  • Fibrosis paru. Fibrosis paru mengakibatkan paru-paru menjadi tidak elastis dan sulit mengalirkan oksigen.
Beberapa gangguan kesehatan juga berisiko diderita oleh pasien ARDS yang berhasil disembuhkan, seperti:
  • Gangguan pernapasan (biasanya napas menjadi pendek), sampai membutuhkan oksigen tambahan saat pulang ke rumah.
  • Depresi.
  • Gangguan daya pikir dan daya ingat akibat otak sempat kekurangan pasokan oksigen.
  • Melemahnya otot akibat terlalu lama berbaring dan tidak digunakan.
  • Merasa lemas dan lelah.

Pencegahan Acute Respiratory Distress Syndrome

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan seseorang untuk menurunkan risiko menderita ARDS, yaitu:
  • Menghentikan kebiasaan merokok dan menghindari asap rokok.
  • Berhenti mengonsumsi minuman beralkohol.
  • Rutin mendapatkan vaksin flu setiap tahun dan vaksin pneumonia setiap lima tahun untuk mengurangi risiko infeksi paru-paru.

Abses Payudara

Abses Payudara

Abses payudara adalah benjolan yang terbentuk di payudara karena berkumpulnya nanah dan terasa nyeri. Kebanyakan abses muncul persis di bawah lapisan kulit.
Abses payudara umumnya dialami oleh wanita berusia 18 hingga 50 tahun, khususnya oleh ibu yang sedang dalam masa menyusui. Seringkali abses payudara juga dapat muncul sebagai komplikasi dari mastitis.
abses payudara - alodokter
Ibu menyusui yang menderita abses payudara disarankan untuk terus menyusui bayinya. Dokter mungkin akan merekomendasikan penggunaan pompa ASI untuk mengeluarkan ASI dari payudara yang terkena abses payudara.

Gejala Abses Payudara

Ciri-ciri benjolan dalam kasus abses payudara bisa dikenali dari pola tepiannya yang teratur dan memiliki tekstur halus, serta terasa padat mirip kista. Selain rasa nyeri, gejala yang juga menyertai abses payudara adalah:
  • Demam tinggi.
  • Kemerahan.
  • Badan terasa tidak sehat.
  • Benjolan terasa panas.
  • Kulit di sekitar abses ikut membengkak.

Penyebab Abses Payudara

Biasanya abses payudara akan dihubungkan dengan mastitis, yaitu suatu peradangan pada payudara yang umumnya dijumpai pada ibu menyusui. Mastitis bisa menyebabkan payudara membengkak dan terasa nyeri. Bakteri yang biasanya dapat menyebabkan mastitis adalah Staphylococcus aureus, yang masuk ke dalam payudara melalui luka kecil atau celah pada puting. Infeksi kemudian bisa terjadi ketika bakteri berkembangbiak secara tidak terkontrol.
Sistem kekebalan tubuh akan mengirimkan sel-sel darah putih pada bagian tubuh yang terinfeksi untuk menyerang bakteri. Serangan sel darah putih ini juga mengakibatkan jaringan tubuh pada bagian yang terinfeksi bakteri ikut mati, sehingga muncul kantung berongga kecil. Nanah yang muncul merupakan campuran dari jaringan tubuh yang mati, sel-sel darah putih, dan bakteri. Jika infeksi terus berlangsung, maka benjolan abses dapat semakin membesar dan terasa semakin nyeri.
Ada dua jenis abses payudara yaitu:
  • Abses menyusui (laktasi). Terbentuk pada bagian pinggir payudara, biasanya di bagian atas.
  • Abses non-menyusui (non-laktasi). Biasanya akan muncul di sekitar areola (bagian berwarna gelap di sekitar puting susu) atau bagian bawah payudara.
Beberapa faktor yang dapat memperbesar risiko wanita terkena abses payudara adalah merokok, pernah terkena mastitis, mengidap diabetes, terinfeksi virus HIV, melakukan penindikan pada puting susu, atau sedang menjalani pengobatan yang menekan daya tahan tubuh.

Diagnosis Abses Payudara

Untuk mendiagnosis pasien yang diduga mengidap abses payudara, langkah pertama yang umumnya dokter lakukan adalah melakukan pemeriksaan fisik pada benjolan. Jika hasil pemeriksaan fisik masih belum dapat memastikan diagnosa, maka dapat dilakukan pemeriksaan dengan USG.
USG adalah pemeriksaan dengan menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi. Dari hasil pemeriksaan USG, dapat dipastikan apakah benjolan yang diperiksa merupakan abses payudara atau bukan, serta didapatkan juga informasi mengenai jumlah kantung nanah di dalam benjolan. Selain USG, dokter juga bisa melakukan pemeriksaan mammografi, yaitu foto Rontgen pada payudara. Namun pemeriksaan ini tidak terlalu nyaman dan menimbulkan rasa sakit, apalagi jika payudara sedang dalam keadaan abses.

Pengobatan Abses Payudara

Sebagian besar kasus abses payudara dipicu oleh mastitis, yaitu peradangan pada payudara. Untuk mengobati mastitis, umumnya dokter akan meresepkan antibiotik.
Apabila peradangan tersebut sudah menjadi abses, selain pengobatan dengan antibiotik, cairan nanah juga akan dikeluarkan dengan menusukkan jarum suntik pada benjolan dipandu oleh USG, atau dengan membuat sayatan untuk mengeluarkan nanah dari dalam abses (insisi dan drainase).

Abses Gigi

Abses Gigi

Abses gigi adalah terbentuknya kantung atau benjolan berisi nanah pada gigi yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Abses gigi biasanya muncul pada ujung akar gigi (abses periapikal).
Infeksi bakteri penyebab abses gigi umumnya terjadi pada orang dengan kebersihan dan kesehatan gigi yang buruk. Nanah yang berkumpul pada benjolan, lambat laun akan terasa bertambah nyeri.
Abses gigi - alodokter
Penyakit ini dapat dicegah dengan cara menyikat gigi secara rutin atau membersihkan gigi menggunakan benang gigi. Sebaiknya seseorang rutin memeriksakan giginya ke dokter gigiuntuk menghindari terjadinya kerusakan dan abses gigi.

Gejala Abses Gigi

Beberapa gejala yang biasanya dirasakan oleh penderita abses gigi adalah:
  • Demam.
  • Sensitif pada tekanan saat mengunyah atau menggigit.
  • Sensitif pada suhu panas atau dingin.
  • Pembengkakan pada wajah atau pipi.
  • Nyeri parah dan berdenyut pada gigi, yang dapat menyebar ke tulang rahang, leher, atau telinga.
  • Kelenjar getah bening di bawah rahang atau di leher membengkak dan terasa nyeri.
  • Saat benjolan abses pecah, mendadak tercium bau tidak enak dari dalam mulut, dan lidah mengecap rasa busuk, serta cairan asin muncul di dalam mulut.
  • Kemerahan pada mulut dan wajah.

Penyebab dan Faktor Risiko Abses Gigi

Penyebab munculnya abses gigi adalah berkembangnya bakteri pada rongga mulut yang menyebar ke jaringan lunak dan tulang wajah dan leher. Bakteri masuk ke dalam pulpa gigi melalui rongga gigi atau retakan pada gigi penderita. Di dalam pulpa gigi sendiri terdapat beberapa pembuluh darah, saraf serta jaringan ikat.
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang menderita abses gigi adalah:
  • Makanan tinggi gula. Mengonsumsi makanan dan minuman dengan kandungan gula tinggi bisa menyebabkan lubang pada gigi yang dapat berkembang menjadi abses gigi.
  • Buruknya kebersihan gigi. Orang yang tidak melakukan perawatan gigi dan gusi dengan semestinya berisiko mengalami masalah pada gigi, termasuk abses gigi.

Diagnosis Abses Gigi

Untuk mendiagnosis pasien yang diduga menderita abses gigi, dokter umumnya akan melakukan beberapa tindakan pemeriksaan seperti:
  • Pemeriksaan fisik. Dokter akan memeriksa rongga mulut pasien secara keseluruhan.
  • Mengetuk gigi pasien. Gigi yang menderita abses biasanya menjadi sensitif terhadap sentuhan atau tekanan.
  • Pemindaian. Foto Rontgen akan membantu dokter mengidentifikasi abses serta melihat apakah infeksi sudah menyebar dan menyebabkan abses di bagian tubuh lainnya. Jika abses sudah menyebar ke bagian leher, biasanya dokter akan menyarankan pemeriksaan CT scan.

Pengobatan dan Komplikasi Abses Gigi

Beberapa langkah pengobatan yang umumnya akan dilakukan dokter untuk mengatasi abses gigi adalah:
  • Membuat kanal ke akar gigi. Dokter akan mengebor ke bagian bawah gigi, mengangkat jaringan lunak yang menjadi pusat infeksi, serta mengeringkan abses. Cara ini dapat menghilangkan infeksi dan menyelamatkan gigi pasien.
  • Mengeringkan abses, dengan cara membuat sayatan kecil pada benjolan abses dan mengeluarkan cairan nanah dari dalamnya.
  • Memberikan antibiotik. Jika infeksi sudah menyebar ke gigi lainnya, dokter akan meresepkan antibiotik untuk menghentikan penyebaran bakteri.
  • Mencabut gigi yang terinfeksi. Jika memang tidak bisa diselamatkan, maka gigi yang terkena abses akan dicabut. Dokter kemudian akan mengeringkan abses.
Jika tidak ditangani dengan benar, penderita abses gigi berisiko terkena beberapa komplikasi seperti:
  • Penyebaran infeksi, ke bagian tubuh lain seperti rahang, leher atau kepala.
  • Sepsis. Infeksi mematikan yang menyebar ke seluruh tubuh.

Ablasi Retina

Ablasi Retina

Ablasi retina adalah kondisi ketika retina (lapisan tipis yang terletak di bagian belakang mata) mulai terlepas dari pembuluh-pembuluh darah yang menyalurkan oksigen dan nutrisi. Retina merupakan bagian penting dari mata yang berfungsi untuk memproses semua cahaya masuk ke mata.
Proses penuaan merupakan salah satu penyebab ablasi retina yang paling sering terjadi. Hampir sebagian besar kasus penyakit ini terjadi pada orang berusia 60 hingga 70 tahun. Namun, tidak menutup kemungkinan ablasi retina dapat terjadi pada dewasa muda ataupun anak-anak, yang dipicu oleh adanya riwayat trauma pada mata.
Biasanya ablasi retina hanya terjadi pada satu mata. Jika tidak ditangani dengan benar, penderita dapat berisiko mengalami kebutaan permanen.
Retina detachment - alodokter

Gejala Ablasi Retina

Terlepasnya retina dari lapisan di belakangnya tidak akan menimbulkan rasa sakit. Seringkali, ablasi retina terjadi secara tiba-tiba. Namun ada juga beberapa tanda awal yang menandakan bahwa Anda mungkin mengalami penyakit ini, antara lain:
  • Muncul floaters pada mata secara mendadak. Floaters adalah bintik-bintik hitam yang tampak melayang-layang di lapangan penglihatan seseorang.
  • Efek sarang laba-laba akibat banyaknya floaters.
  • Penglihatan kabur atau mengalami gangguan.
  • Muncul kilatan cahaya pada mata yang hanya muncul tidak lebih dari sedetik.
  • Penglihatan bagian samping mata perlahan berkurang.
  • Penglihatan tertutup oleh bayangan seperti tirai.
Segera temui dokter jika Anda merasakan gejala-gejala tersebut sebelum kondisi kian memburuk dan Anda kehilangan penglihatan.

Penyebab dan Faktor Risiko Ablasi Retina

Ablasi retina seringkali terjadi akibat adanya robekan kecil di dalam retina, sehingga cairan vitreus (cairan di bagian tengah bola mata) akan merembes masuk di celah antara retina dan lapisan di belakangnya. Cairan ini akan menumpuk, dan menyebabkan seluruh lapisan retina terlepas dari dasarnya. Kondisi inilah yang disebut dengan ablasi retina.
Sobekan retina sendiri dapat terjadi akibat beberapa hal di bawah ini:
  • Retina menipis dan bertambah rapuh akibat bertambahnya usia.
  • Diabetes dengan komplikasi di bagian mata.
  • Cedera mata.
  • Berkurangnya produksi cairan vitreus, sehingga vitreus akan mengerut. Pengerutan vitreus ini akan menarik retina dari dasarnya, sehingga menyebabkan robekan.
Ablasi retina umumnya terjadi pada seseorang yang berusia di atas 50 tahun. Selain usia lanjut, beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengalaminya adalah:
  • Pernah menderita ablasi retina, atau memiliki anggota keluarga dengan riwayat penyakit ini.
  • Menderita rabun jauh (miopia) yang parah.
  • Pernah menjalani pembedahan mata atau cedera mata yang parah.
  • Pernah menderita penyakit mata lainnya atau peradangan.

Diagnosis Ablasi Retina

Diagnosis ablasi retina biasanya ditegakkan oleh dokter spesialis mata. Jika dokter mencurigai pasien mengalami kondisi ini, beberapa tindakan pemeriksaan yang mungkin akan dilakukan adalah:
  • Pemeriksaan bagian dalam mata. Ini dilakukan dengan menggunakan alat oftalmoskop atau slitlamp.
  • Pemindaian ultrasound. USG dilakukan jika retina tidak dapat diamati dengan jelas dengan pemeriksaan menggunakan oftalmoskop atau slitlamp.

Pengobatan Ablasi Retina

Jika retina robek atau berlubang, namun belum sampai tahap terlepas, maka ada beberapa jenis terapi laser yang dapat dilakukan untuk menanganinya, yaitu:
  • Pembekuan (kriopeksi). Dokter spesialis mata akan membekukan robekan di retina, sehingga menimbulkan bekas luka yang membantu retina menempel pada dinding mata.
  • Pembedahan laser (fotokoagulasi). Dokter spesialis mata akan mengarahkan sinar laser untuk membakar sedikit jaringan di sekitar robekan di retina, sehingga menimbulkan bekas luka yang membantu retina menempel pada dinding mata.
Jika retina sudah terlepas, maka pasien membutuhkan tindakan pembedahan untuk menanganinya. Jenis pembedahan tersebut, di antaranya adalah:
  • Pneumatic retinopexy. Dokter spesialis mata akan menyuntikkan gelembung gas kecil yang akan menekan retina kembali ke posisi normal. Jenis pembedahan ini dipilih jika bagian retina yang terlepas hanya sedikit.
  • Vitrektomi. Pada pembedahan ini, dokter akan mengambil cairan vitreus dalam mata, kemudian menggantinya dengan gas atau gelembung silikon.
  • Scleral buckling. Dokter spesialis mata akan menjahit karet silikon atau spons di bagian luar putih mata (sklera). Karet silikon ini akan mengikat dan menekan putih mata sehingga retina bisa menempel ke dinding belakang mata.

Pencegahan Ablasi Retina

Anda bisa mengurangi risiko terkena ablasi retina melalui beberapa hal berikut ini, di antaranya:
  • Gunakan pelindung mata saat berolahraga atau melakukan aktivitas berisiko lainnya.
  • Periksa mata sekali tiap tahun secara rutin.
  • Segera berkonsultasi dengan dokter mata jika muncul floaters baru, kilatan cahaya, atau perubahan apa pun pada daya pandang mata.
  • Kontrol kadar gula dan tekanan darah Anda agar pembuluh darah ke retina tetap sehat.

Deretan Makanan Untuk Penderita Diabetes yang Baik dan Buruk

Deretan Makanan Untuk Penderita Diabetes yang Baik dan Buruk

Memilih makanan untuk penderita diabetes memiliki peran penting untuk menjaga kadar gula di dalam darah. Pasien diabetes tidak bisa leluasa mengonsumsi makanan. Pasalnya, jika salah asupan, kadar gula darah bisa meningkat. Untuk itu, harus diketahui jenis makanan untuk penderita diabetes yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan.
Peningkatan kadar gula darah pada penderita diabetes dapat berisiko menimbulkan dampak pada kesehatan, seperti kelelahan, pusing, kerusakan saraf, gagal ginjal, penyakit jantung, masalah pada mata, lebih rentan terkena infeksi dan luka, bahkan kehilangan kesadaran atau koma.
Deretan Makanan Untuk Penderita Diabetes yang Baik dan Buruk - Alodokter
Makanan yang Dianjurkan
Penderita diabetes perlu hati-hati saat menyantap makanan. Selain dengan pengobatan, diabetes juga perlu ditangani dengan mengikuti pola makan khusus, yang disebut terapi nutrisi medis. Pada penderita diabetes, terapi ini menganjurkan konsumsi makanan bergizi yang rendah lemak dan kalori, agar kadar gula darah mereka tetap terkontrol.
Berikut ini contoh pilihan makanan yang baik untuk penderita diabetes:
  • Makanan yang terbuat dari biji-bijian utuh atau karbohidrat kompleks, seperti nasi merah, ubi panggang, oatmeal, roti, dan sereal dari biji-bijian utuh.
  • Daging tanpa lemak atau ayam tanpa kulit.
  • Sayur-sayuran yang diproses dengan cara direbus, dikukus, dipanggang, atau dikonsumsi mentah. Sayuran yang baik dikonsumsi untuk penderita diabetes di antaranya adalah brokoli dan bayam.
  • Buah-buahan segar. Jika Anda ingin menjadikannya jus, sebaiknya jangan ditambah gula.
  • Kacang-kacangan, termasuk kacang kedelai dalam bentuk tahu yang dikukus, dimasak untuk sup, atau ditumis.
  • Popcorn tawar.
  • Produk olahan susu rendah lemak, seperti yoghurt dan telur. Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi yoghurt rendah lemak tanpa pemanis tambahan dapat mencegah penyakit diabetes tipe 2.
  • Berbagai jenis ikan, seperti tuna, salmon, sarden dan makarel. Namun, hindari ikan dengan kadar merkuri tinggi, misalnya ikan tongkol.
Makanan yang Harus Dihindari
Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, belum puas rasanya jika menu hidangan tidak dilengkapi nasi putih. Padahal bagi penderita diabetes, jenis makanan pokok ini sebaiknya dihindari karena mengandung kadar gula yang tinggi dibanding sumber karbohidrat lainnya.
Selain nasi putih, ada beberapa jenis makanan lain yang harus dihindari jika ingin kadar gula darah tetap terjaga, yakni:
  • Roti tawar putih.
  • Makanan yang terbuat dari tepung terigu.
  • Sayuran yang dimasak dengan tambahan garam, keju, mentega, dan saus dalam jumlah banyak.
  • Buah-buahan kaleng yang mengandung banyak gula.
  • Sayuran kaleng yang mengandung garam tinggi.
  • Daging berlemak.
  • Produk susu tinggi lemak.
  • Makanan yang digoreng, seperti ayam goreng, ikan goreng, pisang goreng, dan kentang goreng.
  • Popcorn kaya rasa.
Jika Anda menderita diabetes, dianjurkan untuk mengonsumsi makanan buatan sendiri. Dengan begitu Anda bisa memantau bahan baku dan bahan tambahan apa saja yang akan digunakan dalam makanan untuk Anda konsumsi. Selain jeli dalam memilih makanan untuk penderita diabetes, Anda juga disarankan untuk rutin mengecek kadar gula darah.
Jenis tes gula darah beragam seperti tes gula darah puasa, tes gula darah sewaktu, tes hemogblobin A1c (HbA1c), dan tes toleransi glukosa oral. Konsultasikan ke dokter untuk menentukan tes gula darah jenis apa yang cocok dengan kondisi Anda, beserta takaran makanan yang pas bagi tubuh Anda.
Dengan pola makan sehat, olahraga, dan pengobatan yang tepat, maka kadar gula darah dapat lebih mudah terkontrol sehingga risiko terkena komplikasi penyakit diabetes pun akan menjadi lebih rendah.

Fungsi Pankreas dan Penanganan Gangguan Pankreas

Fungsi Pankreas dan Penanganan Gangguan Pankreas

Pankreas merupakan salah satu organ di dalam sistem pencernaan manusia. Secara umum, fungsi pankreas dalam tubuh adalah memproduksi hormon dan enzim untuk menghancurkan makanan di dalam perut.
Berikut ini adalah penjelasan mengenai fungsi pankreas lebih lanjut dan gangguan yang dapat muncul jika pankreas mengalami kerusakan, juga bagaimana cara menjaga kesehatan pankreas.
Fungsi Pankreas dan Penanganan Gangguan Pankreas - Alodokter

Memahami Fungsi Pankreas

Pankreas berada di belakang rongga perut dengan panjang 18-25 cm dan memiliki bentuk memanjang, menyerupai ikan. Fungsi pankreas terbagi menjadi dua, yaitu fungsi eksokrin dan endokrin. Berikut penjelasannya:
  • Fungsi eksokrin
Kelenjar eksokrin adalah kelenjar yang mengeluarkan produknya melalui suatu saluran, menuju ke permukaan tubuh atau jaringan lain di dalam tubuh. Contohnya adalah kelenjar air liur, kelenjar keringat, dan kelenjar saluran cerna.
Sebagai kelenjar eksokrin, pankreas menghasilkan enzim pencernaan yang dialirkan ke saluran cerna. Enzim tersebut memiliki fungsinya masing-masing. Misalnya, enzim lipase untuk menguraikan lemak, kemotripsin dan tripsin untuk mencerna protein, serta amilase untuk menguraikan karbohidrat.
  • Fungsi endokrin
Sedangkan kelenjar endokrin adalah kelenjar yang menyalurkan produknya ke dalam peredaran darah. Fungsi kelenjar endokrin pada pankreas adalah mengeluarkan hormon, yaitu hormon insulin dan hormon glukagon. Kedua hormon ini berperan dalam mengatur kadar glukosa atau gula dalam darah.
Hormon insulin akan mengikat glukosa dari darah untuk dibawa ke berbagai jaringan di dalam tubuh, agar bisa digunakan sebagai energi. Hormon insulin ini juga penting bagi hati, karena membantu hati menyerap glukosa dan menyimpannya sebagai glikogen. Glikogen berguna sebagai cadangan energi saat tubuh membutuhkan energi ekstra. Saat glukosa dalam darah terlalu rendah, hormon glukagon yang akan memecah kembali glikogen di hati menjadi glukosa.

Apa yang Terjadi Jika Pankreas Rusak?

Pankreas yang sehat akan memproduksi enzim dan hormon dalam jumlah dan waktu yang tepat ketika kita makan. Namun, pankreas yang memiliki gangguan tidak mampu memproduksi enzim pencernaan secara optimal, sehingga penyerapan makanan juga terganggu
Gangguan pada pankreas juga bisa menyebabkan beberapa penyakit yang berbahaya. Berikut ini adalah beberapa jenis gangguan atau kerusakan pada pankreas, antara lain:
  • Diabetes tipe 1 dan tipe 2
Pada diabetes tipe 2, tubuh tidak menggunakan insulin sebagaimana seharusnya (resisten) dan gula darah naik. Pankreas juga kehilangan kemampuan memproduksi dan melepaskan insulin sesuai dengan kebutuhan tubuh. Sedangkan pada diabetes tipe 1, sistem imun justru menyerang sel-sel pankreas yang menghasilkan insulin, sehingga pada penderita diabetes tipe 1 dibutuhkan suntikan insulin seumur hidup.
  • Pankreatitis
Penyebab utama dari penyakit ini masih belum diketahui, namun masalah batu empedu dan kebiasaan mengonsumsi minuman beralkohol bisa menjadi salah satu pemicu. Pada pankreatitis, pankreas mengalami peradangan dan rusak, karena zat pencernaan yang dihasilkannya sendiri. Pankreatitis bisa menyebabkan kematian jaringan pada pankreas.
  • Fibrosis kistik
Penyakit fibrosis kistik atau cystic fibrosis disebabkan oleh adanya gangguan genetik yang menimbulkan kelainan pada pankreas dan paru-paru. Kondisi ini bisa menyebabkan diabetes atau masalah pencernaan.
  • Kanker pankreas
Kanker pankreas bisa dikatakan sebagai penyakit yang diam-diam mematikan, karena gejala awalnya sedikit dan bahkan tidak terlihat. Pada pankreas terdapat beberapa macam sel dengan tipe yang berbeda, dan masing-masing berpotensi untuk menjadi ganas. Yang paling sering berkembang menjadi kanker adalah sel yang terdapat pada saluran pankreas.
  • Pseudokista pankreas
Rongga berisi cairan yang disebut dengan pseudokista dapat terbentuk setelah terjadinya serangan pankreatitis. Kondisi ini dapat diatasi dengan melakukan bedah drainase, namun pada sebagian penderita dapat sembuh dengan sendirinya.
Selain beberapa penyakit di atas, gangguan atau kerusakan lainnya pada pankreas adalah tumor sel islet pankreas di mana produksi hormon meningkat tajam, serta pembesaran pankreas, baik dengan fungsi yang normal sehingga tidak diperlukan penanganan, maupun akibat suatu penyakit yang membutuhkan pengobatan.

Bagaimana Cara Menangani Gangguan Pankreas?

Agar terhindar dari beberapa penyakit di atas, Anda perlu menjaga kesehatan pankreas. Cara sederhana yang bisa dilakukan adalah dengan mengubah gaya hidup yang dijalani. Ini bisa dilakukan dengan mengonsumsi makanan sehat dengan gizi yang seimbang, olahraga secara teratur, dan menjaga berat badan tetap ideal.
Selain itu, hindari merokok dan kurangi mengonsumsi minuman beralkohol, atau bahkan berhenti sama sekali. Merokok dan minum minuman beralkohol secara berlebihan bisa merusak fungsi dan kesehatan pankreas.
Namun, jika Anda sudah terlanjur mengalami gangguan pada fungsi pankreas, Anda dapat melakukan pengobatan sesuai dengan gangguan yang dialami, antara lain:
  • Penyuntikan insulin
Suntikan insulin ini biasanya diberikan pada penderita diabetes tipe 1, atau pada diabetes tipe 2 yang sudah tidak bisa diobati dengan obat minum. Gunanya adalah untuk menurunkan kadar gula darah.
  • Pemberian enzim
Pemberian enzim pankreas ini diberikan pada mereka yang mengalami fibrosis kistik. Pemberian enzim biasanya dilakukan melalui suplemen enzim.
  • Drainase
Drainase ini dilakukan pada penderita pseudokista dengan memasukkan jarum dan selang ke dalam pseudokista melalui kulit, kemudian selang dihubungkan dengan rongga perut atau usus. Ini untuk mengeluarkan atau mengeringkan kista.
  • Reseksi kanker pankreas
Operasi ini dilakukan dengan mengangkat kandung empedu, sebagian kepala pankreas, dan bagian pangkal dari usus halus.
  • Operasi pseudokista
Operasi pseudokista bisa dilakukan dengan teknik laparotomi atau laparoskopi. Laparotomi adalah operasi dengan sayatan panjang vertikal di perut. Laparoskopi adalah operasi melalui beberapa sayatan kecil, menggunakan alat berupa teropong dengan kamera. Kedua teknik operasi ini dilakukan untuk mengangkat pseudokista.
  • Transplantasi sel islet
Transplantasi ini masih dalam penelitian dan dilakukan untuk menyembuhkan diabetes tipe 1. Transplantasi dilakukan dengan mengangkat sel islet penderita dan digantikan dengan sel islet pankreas dari pendonor.
  • Transplantasi pankreas
Transplantasi ini dilakukan pada penderita fibrosis kistik dan diabetes, dengan menggunakan pankreas pengganti dari pendonor.
Mulailah membiasakan diri untuk menjalani gaya hidup sehat dengan berhenti merokok dan mengurangi konsumsi minuman beralkohol. Selain itu, Anda disarankan untuk menghindari pola makan tidak sehat yang dapat menyebabkan obesitas. Untuk mengetahui kesehatan pankreas dan mendapatkan penanganan atas gangguan yang terjadi, konsultasikan pada dokter secara menyeluruh.

Apa Penyebab Gatal pada Selangkangan?

Apa Penyebab Gatal pada Selangkangan?

Rasa gatal merupakan salah satu hal yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.  Terutama jika Anda mengalami gatal pada selangkangan, tentu akan terlihat tidak pantas jika Anda menggaruknya di tempat umum.
Area selangkangan yang gatal, biasanya tampak kemerahan atau tampak mengelupas. Selain itu, pada gatal selangkangan di bagian pinggir bisa tampak sebagaimana kulit yang lecet.
Apa Penyebab Gatal pada Selangkangan? - Alodokter

Menyerang Bagian Tubuh yang Lembap

Umumnya gatal selangkangan merupakan infeksi jamur di bagian terluar dari kulit. Infeksi yang juga dikenal sebagai tinea cruris ini bisa pula mengenai bagian terluar dari rambut atau kuku.
Selangkangan merupakan salah satu lokasi jamur berkembang biak dengan cepat karena lembap dan hangat. Area lainnya yang menjadi tempat berkembangnya jamur dengan cepat, antara lain paha bagian dalam dan bokong. Infeksi jamur pada selangkangan juga tidak jarang disertai rasa nyeri.
Khususnya bagi penderita diabetes dan obesitas memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami gatal pada selangkangan akibat infeksi jamur.
Selain infeksi jamur, penyebab lain dari gatal pada selangkangan adalah iritasi dari pakaian dalam yang terlalu ketat, infeksi bakteri pada vagina wanita, infeksi kulup pada pria akibat kurang bersih, kudis dan infeksi bakteri seperti molluscum contagiosum.
Bagi mereka yang aktif secara seksual, gatal pada selangkangan bisa terjadi akibat penyakit menular seksual seperti herpes genital, sifilis, infeksi kutu dan kutil.

Cara Mengatasi

Timbulnya rasa gatal yang mengganggu dapat membuat seseorang menjadi tidak nyaman. Untuk mengatasi gatal pada selangkangan akibat jamur, dapat menggunakan krim atau bedak antijamur. Sebaiknya cuci bersih area yang terkena infeksi dengan sabun dan air sebelum Anda menggunakan krim atau bedak antijamur. Gunakan secara merata dan teratur.
Ikuti petunjuk pemakaian dengan tepat. Meski gejala mereda, jangan hentikan penggunaan krim atau bedak antijamur terlalu cepat. Tetap ikuti durasi penggunaan sesuai yang disarankan pada label produk.Ini supaya infeksi tidak kembali lagi.
Ketika gatal pada selangkangan akibat jamur ini digaruk, maka dapat menyebabkan terjadinya infeksi bakteri. Jika ini terjadi, kemungkinan akan diperlukan pengobatan antibiotik. Namun perlu diperhatikan bahwa penggunaan antibiotik harus selalu di bawah pengawasan dokter.
Pengobatan untuk gatal pada selangkangan perlu dilakukan sesuai dengan penyebab dasarnya. Jika Anda ragu mengenai penyebabnya, periksakan diri ke dokter. Dengan memeriksakan diri ke dokter dan menjalani tes medis yang sesuai, penyebab dasarnya bisa diketahui dan Anda pun bisa menerima pengobatan yang tepat.
Penyakit menular seksual umumnya memerlukan campur tangan dokter, contohnya, resep antibiotik untuk sifilis dan prosedur medis pengangkatan kutil.

Kondisi yang Harus Diperhatikan

Meski gatal selangkangan akibat jamur tidak berbahaya, namun ada beberapa kondisi yang mengharuskan Anda segera menemui dokter, seperti:
  • Gejala tidak membaik dalam waktu dua minggu, bahkan setelah menggunakan krim atau bedak antijamur.
  • Gatal pada selangkangan terjadi secara berulang-ulang.
  • Infeksi tampak makin parah.
Untuk mengetahui lebih lanjut, dokter bisa melakukan pemeriksaan disertai pengambilan sampel kulit di area yang bermasalah.

Upaya Pencegahan

Menjaga area selangkangan tetap bersih dan kering merupakan salah satu kunci untuk mencegah infeksi jamur. Keringkan dengan seksama setelah Anda mandi. Selain itu beberapa upaya lain meliputi:
  • Jangan berbagi baju atau handuk dengan orang lain.
  • Hindari terlalu lama mengenakan pakaian atau celana lembap atau basah, misalnya setelah Anda berolahraga atau berenang.
  • Pilih pakaian dalam yang terbuat dari bahan katun.
  • Jangan gunakan pakaian dalam atau celana yang terlalu ketat.
  • Segera cuci pakaian, pakaian dalam, kaus kaki, atau handuk tiap kali setelah dipakai.
  • Ketika berada di kamar mandi yang digunakan untuk umum, gunakan alas kaki.
  • Hindari penyebaran infeksi jamur dari kaki ke area lain, termasuk selangkangan. Keringkan bagian kaki dengan handuk pada bagian akhir setelah selesai menggunakannya pada tubuh. Lalu gunakan kaus kaki sebelum Anda mengenakan celana, untuk meminimalisasi penularan.
  • Gunakan kondom ketika berhubungan intim dengan orang yang tidak diketahui riwayat seksualnya.
  • Ketika berbelanja untuk pakaian dalam dan renang, hindari untuk mencobanya secara langsung. Cuci terlebih dahulu sebelum memakai pakaian dalam dan renang yang baru dibeli.
Meski mengganggu, tidak perlu khawatir berlebihan jika Anda mengalami gatal selangkangan. Utamakan kebersihan diri, selain memberikan pengobatan yang tepat.

Arti Tinggi dan Rendahnya Kadar Gula Darah dalam Tubuh

Arti Tinggi dan Rendahnya Kadar Gula Darah dalam Tubuh

Dalam ilmu medis, keberadaan gula atau zat glukosa dalam darah disebut gula darah. Kadar gula darah yang normal pada tubuh penting bagi kinerja dan kesehatan tubuh.
Namun beda cerita jika kadarnya terlalu tinggi atau rendah. Kadar gula darah yang terlalu tinggi atau rendah bisa memberikan dampak buruk baik secara jangka pendek maupun jangka panjang.
Arti Tinggi dan Rendahnya Kadar Gula Darah dalam Tubuh - Alodokter

Apa yang Terjadi Jika Gula Darah Terlalu Tinggi?

Kadar gula darah Anda dikatakan terlalu tinggi jika melebihi angka 200 mg/dL. Dalam ilmu medis, kadar gula darah terlalu tinggi disebut hiperglikemia.
Kondisi ini terjadi ketika tubuh tidak memiliki cukup insulin maupun akibat resistensi insulin, yaitu hormon yang dilepas oleh pankreas. Insulin berfungsi menyebarkan gula dalam darah ke seluruh sel-sel tubuh agar bisa diproses menjadi energi.
Kebanyakan kondisi ini dialami oleh penderita diabetes yang tidak bisa menjalani gaya hidup sehat, misalnya terlalu banyak makan, kurang berolahraga, atau lupa mengonsumsi obat diabetes atau insulin. Kondisi lain yang menyebabkan hiperglikemia pada penderita diabetes adalah:
  • Stres.
  • Mengonsumsi obat-obatan steroid.
  • Sedang menjalani operasi.
  • Sedang terinfeksi penyakit tertentu.
Orang normal yang tidak menderita diabetes juga bisa terkena hiperglikemia, terutama jika dia sedang menderita sakit berat.
Tanda-tanda Anda memiliki kadar gula darah terlalu tinggi adalah badan terasa lelah, nafsu makan menggila, bobot tubuh berkurang, sering merasa haus, dan sering buang air kecil.
Jika kadar gula darah Anda melebihi 350 mg/dL, gejala yang akan Anda rasakan seperti perasaan mudah gelisah, tingkat kesadaran menurun, sangat kehausan, penglihatan tidak jelas, dan pusing. Perubahan pada kondisi kulit juga dapat terlihat, seperti memerah, kering, dan terasa panas.
Selain menderita hal-hal tersebut, kadar gula darah terlalu tinggi, terutama yang tidak pernah mendapat pengobatan, juga bisa menyebabkan bahaya serius seperti ketoasidosis diabetik atau sindrom diabetes hiperosmolar.
Selain itu, Anda juga bisa mengalami infeksi pada gigi dan gusi, masalah kulit, osteoporosis, gagal ginjal, kerusakan saraf, kebutaan, dan penyakit kardiovaskular.

Apa yang Terjadi Jika Gula Darah Terlalu Rendah?

Gula darah terlalu rendah atau hipoglikemia terjadi ketika kadar gula darah Anda berada di bawah 70 mg/dL. Kondisi ini juga umum terjadi pada penderita diabetes. Efek samping dari obat-obatan yang digunakan untuk mengobati diabetes bisa menurunkan kadar gula darah secara berlebihan.
Insulin pada penderita diabetes umumnya tidak berfungsi dengan baik. Oleh karena itu, penderita diabetes diharuskan mengonsumsi insulin atau obat-obatan yang bisa menurunkan kadar gula darah. Sayangnya, karena dikonsumsi terlalu banyak, insulin atau obat anti-diabetes bisa membuat gula darah turun drastis.
Hipoglikemia akan cepat terjadi jika insulin atau obat anti-diabetes tidak diiringi oleh asupan makanan yang cukup atau justru tidak makan sama sekali. Olahraga yang berlebihan juga bisa memicu kondisi ini.
Kondisi ini juga bisa dialami oleh kalangan yang bukan penderita diabetes. Beberapa penyebab yang mungkin memicu hipoglikemia, antara lain:
  • Terlalu banyak mengonsumsi minuman beralkohol.
  • Mengidap penyakit kritis tertentu, seperti hepatitis, anoreksia nervosa, atau tumor langka pada pankreas.
  • Kekurangan hormon tertentu.
  • Mengonsumsi obat anti-diabetes milik orang lain atau obat seperti quinine.
Jika kadar gula darah Anda rendah, tubuh akan lemas dan tidak bertenaga. Tanda-tanda yang bisa Anda rasakan adalah kulit berubah pucat, berkeringat, kelaparan, kelelahan, jantung berdebar, kesemutan di area mulut, gelisah, dan mudah marah . Dampak yang akan Anda alami ketika kadar gula darah terlalu rendah (di bawah 40 mg/dL), antara lain:
  • Bicara yang melantur.
  • Sulit untuk berkonsentrasi.
  • Tidak mampu berdiri atau berjalan.
  • Otot berkedut.
  • Kejang.
  • Stroke.
  • Koma.
  • Meninggal.

Mari Cek Gula Darah Anda

Cara untuk mengetahui kadar gula darah adalah dengan melakukan tes darah. Tes ini berguna untuk memonitor kadar gula darah dalam tubuh Anda agar tidak keluar dari batas normal.
Tes gula darah bisa dilakukan di rumah dengan memakai alat tes gula darah. Anda juga bisa melakukan tes gula darah di rumah sakit. Ada beberapa jenis tes gula darah yang bisa dilakukan:
  • Tes gula darah yang mengharuskan Anda puasa. Anda diharuskan puasa delapan jam sebelum pengambilan sampel darah. Tes ini sering dipakai untuk mendiagnosis pradiabetes dan diabetes.
  • Tes toleransi glukosa oral (TTGO). Dalam tes ini Anda akan diberikan glukosa dalam jumlah tertentu dan dua jam kemudian, kadar gula dalam darah Anda akan diperiksa.
  • Tes hemoglobin A1c atau glikohemoglobin. Tes ini dilakukan untuk mengetahui kadar gula darah yang berada pada sel darah merah. Hasil tes ini dapat memberi informasi mengenai kadar gula Anda selama 2-3 bulan terakhir. Tes ini memudahkan dokter untuk mengubah obat-obatan diabetes seseorang jika diperlukan. Tidak seperti sebelumnya, Anda tidak perlu menjalani persiapan khusus untuk melakukan tes ini.
  • Tes gula darah acak. Tes ini bisa dilakukan kapan saja. Kadar gula darah bisa bervariasi tergantung makanan seseorang dan kapan terkahir kali mengonsumsi makanan sebelum tes dilakukan. Oleh karena itu, Anda tidak perlu melakukan persiapan khusus sebelum tes dilakukan. Karena sifatnya yang tidak mengenal waktu, pengujian ini dianggap sangat berguna karena umumnya kadar gula darah pada orang sehat tidak berbeda jauh sepanjang hari. Jika kadar gula darah Anda berbeda secara signifikan, maka mungkin ada masalah kesehatan. Selain di rumah sakit, tes ini juga bisa dilakukan di rumah memakai alat tes gula darah.
Konsultasikan kepada dokter tes apa yang cocok untuk Anda jalani. Tanyakan pula kepada dokter mengenai risiko atau hal-hal lainnya yang berkaitan dengan tes tersebut.

Lalu Berapa Kadar Gula Darah Normal?

Kadar gula darah normal tidak selalu sama, tergantung kapan tes yang Anda jalani dan kondisi tubuh Anda. Hal seperti mengonsumsi alkohol atau kafein bisa memengaruhi kadar gula darah. Berikut ini adalah kadar gula darah normal. Namun ini hanyalah perkiraan saja karena tiap laboratorium memiliki patokan yang berbeda-beda.
  • Jika Anda melakukan tes dua jam setelah makan, maka kadar normal gula darah adalah kurang dari 140 mg/dL atau 7.8 mmol/L. Angka ini berlaku pada kalangan yang berusia di bawah 50 tahun. Bagi mereka yang berusia 50-60 tahun, kadar normalnya adalah kurang dari 150 mg/dL atau 8.3 mmol/L. Jika Anda berusia 60 tahun ke atas, maka kadar normal gula darah adalah 160 mg/dL atau 8.9 mmol/L.
  • Jika Anda melakukan tes gula darah yang mengharuskan puasa, maka kadar normal gula darah Anda dapat berada kurang atau sama dengan 100 mg/dL atau 5.6 mmol/L.
  • Jika Anda melakukan tes gula darah acak, maka hasilnya tidak bisa disamakan. Hasilnya tergantung dari kapan dan apa yang Anda makan sebelum menjalani tes. Namun umumnya kadar normal gula darah berada di angka 80-120 mg/dL atau 4.4-6.6 mmol/L (jika melakukan tes sebelum makan atau setelah bangun tidur). Jika melakukan tes pada waktu ingin tidur, maka angka normal adalah 100-140 mg/dL atau 5.5-7.7 mmol/L.
  • Jika Anda menjalani tes hemoglobin untuk gula darah, maka kadar normal adalah kurang dari atau sekitar 7 persen.
Pastikan Anda mencatat tanggal tes dan hasilnya. Perhatikan pula apa saja yang Anda konsumsi atau aktivitas yang dilakukan sebelum menjalani tes itu. Dengan rutin mengecek tes gula darah dan menjalani hidup sehat, Anda bisa terhindar dari efek negatif dari tinggi atau rendahnya kadar gula darah.